Sebulan telah berlalu sejak kepulangan saya berpetualang dua bulan penuh di Benua Eropa. Selama dua bulan itu, 13 negara telah didatangi, dan 18 kota berhasil dijelajahi. Suatu petualangan yang benar-benar memberikan sejuta pengalaman dan pelajaran berharga tentang kehidupan. Mulai dari bagasi yang tertinggal di Kuala Lumpur Airport dan baru datang seminggu kemudian (hal ini mengakibatkan tidak-mandi-tidak-ganti-baju-tidak-gosok-gigi selama hampir seminggu di Paris), mencari masjid jam 11 malam untuk numpang tidur karena tidak ada tempat menginap di Paris, berlari terengah-engah dengan backpack seberat 15 kilo di punggung sampai Christie asmanya kambuh karena hampir telat mengejar kereta Hamburg – Kopenhagen, diterpa hujan badai di Roma hingga basah kuyup sampai ke dalem2 dan menggigil sepanjang malam, ataupun mabok dan teler lalu tidur selama 13 jam setelah mengkonsumsi space cake di Amsterdam. *ehem*
Banyak yang bertanya, apakah saya orang yang kebanyakan duit hingga mampu berjalan-jalan di Benua Eropa selama dua bulan? Ah tidak juga. Saya kira semua orang bisa bepergian kemana pun mereka mau, asalkan ada niat yang kuat untuk menabung. Untuk kepergian saya ke Eropa ini, saya menabung sejak awal saya berkuliah di Yogyakarta. Empat tahun saya menabung untuk perjalanan ini. Ya, EMPAT TAHUN. Terasa berat pada awalnya, hingga saya memutuskan untuk mencari pekerjaan sambilan demi mewujudkan keinginan saya untuk berjalan-jalan selepas saya diwisuda. Saya mendaftar sebagai penerjemah bahasa inggris di sebuah pusat pengkajian ekonomi di universitas tempat saya belajar. Gajinya bisa dibilang sangat lumayan untuk seorang penerjemah amatir yang masih berstatus mahasiswi seperti saya. Dengan uang dari pekerjaan ini lah saya bisa lebih legowo, jika pada tanggal 10 setiap bulannya, saldo di rekening saya berkurang drastis karena ditarik otomatis oleh bank ke dalam deposito saya.
Pertanyaan lainnya yang juga sering ditanyakan kepada saya adalah “Apa ga sayang nabung sekian lama terus abis cuma dipake jalan-jalan? Mending uangnya dipake buat modal kawin atau sekolah lagi deh.”. Well, saya tidak bisa menyalahkan kalau ada orang yang berkata seperti itu. Setiap orang punya prioritasnya masing-masing. Mungkin buat saya, traveling memegang porsi yang cukup besar dalam prioritas kehidupan. Traveling itu adiktif dan saya akui, I am addicted to it. Oleh karena itu saya tidak segan untuk menabung sekian tahun kemudian menghabiskannya untuk jalan-jalan. Kalau menurut saya ya, kawin tidak terlalu membutuhkan banyak uang karena saya berniat kalau menikah cukup undang orang-orang terdekat dan ga perlu lah bermewah-mewahan. Sedangkan kalau untuk sekolah lagi, saya adalah penganut “kalau dapet beasiswa gw sekolah lagi, kalau ga dapet mendingan gw kerja”. As simple as that. Traveling buat saya juga bukanlah hal yang “gitu doang”. Setiap hari selama perjalanan, saya selalu bertemu dengan orang-orang baru yang selalu sukses mengajarkan saya tentang nilai-nilai dan perspektif kehidupan. Setiap hari saya juga selalu menemukan dan melihat hal baru yang mustahil saya dapatkan jika saya diam di tempat dan tidak melakukan perjalanan. Semua hal itu membuat saya menjadi lebih kaya. Kaya akan wawasan dan kaya akan pengalaman. Karena saya yakin, setiap orang yang saya temui selama perjalanan ialah guru kehidupan dan semua tempat yang saya kunjungi dapat seketika berubah menjadi sekolah dan tempat pembelajaran. Jadi, untuk saya, mengeluarkan uang untuk traveling adalah suatu investasi besar bagi keluasan wawasan dan pengalaman hidup seseorang.
Traveling juga tidak selalu identik dengan mahal dan bermewah-mewahan kok. Untuk perjalanan dua bulan ke Eropa ini, saya menghabiskan 1000 euro untuk biaya hidup. Pesawat pun menggunakan budget airlines berinisial AA untuk bisa sampai ke Paris. Saya tidak pernah sekalipun tinggal di hotel ataupun hostel atau losmen selama di perjalanan. Prinsip saya, lebih baik tidur di taman atau di mesjid daripada menginap di hostel. Pokoknya maunya gratisan terus. Well, beggar cant be chooser, right? Kenapa begitu? Harga hostel di Eropa lumayan mahal. Paling murah mungkin sekitar 20-an euro untuk kamar mixed dorm (satu kamar 4-6 orang, laki-laki dan perempuan dicampur) dengan tempat tidur bunk bed. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk menggunakan www.couchsurfing.org untuk mencari host di tiap kota selama saya di Eropa. Entah karena faktor apa, tapi selalu saja ada yang menampung saya untuk menginap walaupun saya baru mengirimkan request untuk menginap beberapa jam sebelum kedatangan saya. Couchsurfing bukan hanya menghemat total pengeluaran seluruh perjalanan saya, namun juga memberikan pengalaman untuk mengetahui “how the locals live” dengan cara yang unik. Saya mungkin tidak akan memiliki pengalaman seperti mengelilingi kanal di Amsterdam dengan perahu milik host, mencicipi white wine langsung dari wine brewery di atas gunung di Stuttgart, atau mengganti ban mobil jam 4 pagi di Milan kalau bukan karena couchsurfing!
Dengan segala akses untuk melakukan traveling, traveling saat ini bukanlah sesuatu hal yang harus ditakuti atau disegani karena anggapan mahal. Nabung dong! Mumpung masih muda, belum terikat pekerjaan dan ikatan pernikahan, ayo traveling! Kapan lagi? Traveling dengan suami/istri saat kita tua atau traveling karena urusan bisnis rasanya pasti akan beda dengan traveling yang benar-benar untuk pleasure dan keinginan untuk mencari jati diri
Kalo nanti traveling sama pasangan, ga akan seseru kalo traveling masih muda dan masih single! Tujuan traveling juga tidak harus ke luar negeri kok. Bepergian ke kota-kota di Pulau Jawa atau Sumatera, menyelami perbedaan budaya di Bali atau bahkan ke Singapura dan Malaysia juga pasti akan memberikan sebuah pengalaman berharga setelahnya. Jadi, menabung mulai sekarang, pilih tempat tujuanmu, dan rasakan the art of traveling!

